Monday, August 18, 2008

cerpen...

Senyum Kepasrahan

Hujan… kembali basahi bumi Sekaran.
Sejuk tapi juga dingin….breb… breb…..
Senyum pagi itu ku kembangkan sebelum kulangkahkan kaki pertamaku. Yaah! Aku sudah lega sekarang! Pagi ini aku akan ke ruamh Bu Anik.

Rabu, 9 Juli 2008, 00.00 WIB
Ku masih terjaga. Belum juga mampu kupejamkan mata. Ku merasa tersiksa. Sakit! Sungguh! Hingga aku tak mampu lagi merasakannya. Sakiiiiit sekali!
Aku ingin tidur.
☺☺☺
Seharian sudah aku beraktivitas. Capek! Keluar jam enam pagi. Syuro kegiatan Ramadlan yang bentar lagi kan dating. Pulang syuro’ langsung ke warnet untuk cari tugas.
www.google.com klik! Browse!
Kutulis lagi Crash Movie. Enter!
Tereteet….. terbuka. Alahamdulillah! Ketemu. Kuambil beberapa tentang film itu dan ku simpan di dalam flashdisku. Yups! Besok pagi tugas harus aku kumpulkan. Semoga malam ini rental dekat kos gak antri jadi bisa langsung kelar n besok pagi ngumpulin ke meja Bu Hani. insyaAlloh….
Ku tengok jam di nokia 1600ku. Pukul 10.30. Segera kulangkahkan kakiku tuk agenda ketiga hari ini. Pasar Krempyeng lah yang ku tuju. Semoga masih ada yang jualan. Iya! Pasar Krempyeng, satu-satunya pasar tradisional yang dekat dengan kampusku Unnes buka sejak ba’da subuh dan sepi setelah jam 9 pagi. Kebanyakan pedagangnya menjual sarapan pagi berikut thethek bengeknya. Tak ada banyak menu disana, hanya nasi pecel, gudangan, bubur, jajanan pasar sejenis cenil dan gethuk atau pilihan terakhir dan agaknya wah ya sate ayam pertusuk 700 rupiah. Ada Ibu- Ibu pedagang jamu, gorengan, buah dan sayuran juga mas pedagang molen dan pukis. Yang kutuju kali ini Ibu buah dekat warung Mbah Man. Akhir- akhir ini memang ibu itu masih tetap menggelara dagangan buahnya hingga siang hari bahkan juga sore hari.
“Lumayan Mbak, kalo siang kadang masih ada yang beli semangka juga jeruk.” Jelasnya saat iseng kutanyakan alasannya.
Ternyata beliau tidak sendiri sekarang.ada Ibu muda yang jualan Es buah, jus, sup buah juga gado- gado. Lumayan! Saat melihat mereka semua aku sering tertegun. Teringat Ibu dirumah sana yang juga jualan gorengan dan jajanan untuk menambah masukan keluarga.
“Kena nggo butuhan dina- dina Nduk karo kanggo sangu sekolah kowe karo adhi- adhimu’” jelas Ibu saat aku masih dirumah dulu.
Dan karena itu pula dulu aku selalu membawa gorengan dan jajanan Ibu tiap ke sekolah saat SMP juga SMA. Untungnya banyak temen- temen yang suka. lumayan bisa buat beli buku- buku sekolah.
Hari ini aku mamu menjenguk Mbak Esih, murobbiku yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Tadi pagi- pagi beliau menelpon dan memintaku datang.
“Mbak sedirian Nok. Pak Zaman pergi ngajar. Kalo bisa tolong Mbak ditemani yo..” pintanya tadi pagi.
Untuk oleh- oleh kubeli sekilo jeruk manis (satu- satunya jenis buah yang kurasa pantas juga yang pas dengan kondisi dompetku saat itu, hehe), terus nunggu angkot di dekat pertigaan pasar dan melesat dengan angkot oranye ke perumahan Green Village tempat beliau melahirkan, ditempat praktik bidan Nana.
Sampai Ashar aku menemani Mbak Esih.jam 3 seperempat aku pamirt dan segera ke Masjid Kampus. Ada kumpul angkatan 2006 kata ukh Yati tadi lewat telepon dan aku harus datang. Agendanya bahas up grading sama bahas kegiatan rencana kegiatan Ramadlan yang dah disusun tadi pagi juga tentang baksos. Kabarnya ada beberapa agenda yang perlu di pangkas karena kekurangan dana juga karena beberapa senior kurang setuju degan konsep adek- adek angkatan 2007 itu. Padahal menurutku rencana kegiatan itu dah lumayan bagus dan menarik karena beberapa diantaranya adalah jenis acara baru yang harapanya tidak membosankan dan mampu menarik minat teman- teman.
“Justru itu, MPP ada yang kurang setuju. Katanya acara itu kurang ahsan.”,jelas Yati padaku.
“Emangnya kurang ahsan kenapa?”
“Aku juga kurang faham. Pokoknya antum berangkat yo… usahakan jangan telat!”
Acara pun berlangsung himgga maghrib menjelang.
☺☺☺
Maghrib.
Alhamdulillah dah balik lagi di kos. Kos sepi. Cuma ada 3 orang, Mbak Inah, De’ Devi juga Dek Wina yang sedang jama’ah Maghrib. Berarti berempat denganku. Yang lain masih belum pulang. Ada yang masih di kampus, ngurus tugas dan sebagainya. Akhir semester memang full aktivitas. Aargh…. Lumayan capek juga hari ini. Segera ku raih handuk, langkahkan kaki ke kamar mandi. Dan byuuuuuuuuuuur! Mandi kilat tapi cukup menyegarkan badan juga! Segera ku ambil mukenah dan shalat. Yaaaaaaaaaaaah sendiri lagi. Sudah dua Maghrib aku ketinggalan jama’ah. Kemarin karena kesorean dari bimbel trus hari ini kesorean tasi nunggu angkot lama. Yaaaaaaah.
Jam 7 sore aku pergi ke Rental Lia dekat kos. Alhamdulillah gak antri jadi tugas bisa kelar. Alhamdulillah….jam 9 malam dah bisa balik kos dan yaaaaaaaaaaaaaaaap siap- siap beristirahat. Tapi ternyat mat ini tak bisa kupejamkan. Tiba- tiba kepalaku sakit lagi. Astaghfirulloh……. Sakit!
☺☺☺
Malam ini untungnya Mbak Rahma, teman sekamarku dah balik lagi ke kos setelah dua malam ia menginap di tempat Mbak Icha, teman seangkatannya buat bikin karya ilmiah untuk LKTM. Hasrat ingin tidurku belum juga tercapai. Kepalaku masih sakit………..
“De’ Indah kenapa? Kepalanya sakit lagi?” oouw! Ternyata Mbak Rahma belum bobok.
“Iya Mbak. Sakit banget”
“Dah jadi ke dokter?”
Ya Ampuuuuuuuun. Aku lupa. Hari ini harusnya aku ke dokter Ita tapi lupa karena seharian beraktivitas padat banget.
“Gak sempet Mbak.” Jawabku.
“Yawdah, sini tak pijitin po?”
“Makasih Mbak!”
“Dek Indah gak da masalah tho?,” tanyanya disela- sela pijitan kecil yang lumayan kurangi skit keplaku itu.
Aku kaget!
“Gak kok Mbak!.” Gak mungkin kuceritakan pada Mbak maksudku dalam hati.
Aaaaaaaaaaargh. Seandainya dia tahu…..
Ba’da Shubuh, tiga hari yang lalu….
Aku baru saja melipat mukenahku saat si Hitam 1600ku berbunyi.
Adekku memanggil…
“Hallo… Assalamualaikum ?”
“Wa’alaikumsalam Mbak!”
“Wonten napa Dek?”
“Mbak Indah punya dhuwit ga? Aku butuh banget ki…SKHUku ora isa dipendhet yen durung lunas bayare. Aku arep njaluk karo Bapak ora wani Mbak. Bapak durung mari Mbak. Arthone Ibu diagem berobat Bapak. Lha dhuwitku saka bengkel isih kurang. Kabeh kurange isih 700 ewu Mbak. Piye Mbak?”
Astaghfirulloh…. Aku lemas. Sebisa mungkin kutenangkan adikku. Aku berjanji tiga hari lagi akn segera mengirim uang lewat ATM Mbak Iin, tetangga yang juga guru ngaji di mushola tempat adik- adikku mengaji. Aku janjikan itu agar adikku tenang, setidaknya lega saat itu. Tapi aku sendiri bingung! Uang 700 ribu? Padahal di ATM hanya ada tabungan 800 ribu, itu juga rencana buat jaga- jaga registrasi kalau- kalau beasiswa keluarnya telat. Juga biaya hidupku? Aku bingung. Kalau tidak kukirim, Rohim pasti sedih jika harus menunggu bulan Agustus untuk bisa mengambil SKHUnya. Harapannya untuk segera bekerja pasti kandas. Aaaaaaaaaargh.
Aku bingung. Padahal esok pagi harusnya aku mengirimkan uang itu agar segera dia mengambil SKHUnya.
☺☺☺
Setengah satu malam ku pinta Mbak Rahma segera beristirahat. Aku yakin dia pasti sangat capek menyelesaikan tugas karya Ilmiahnya. Segera aku beranjak. Kali ini kupaksakan kaki melangkah ke kamar mandi. Ambil wudlu. Aku akan mengadu pada-Nya. Pada Sang Pencipta yang Maha Pemberi Petunjuk. Kucurahkan semua dalam sela-sela raka’at shalat malamku. Kuutarakan semua keluh kessahku pada Sang Maha Tahu. Ku biarkan diri ini basah dengan air mata hingga lelah tak kurasa. Ku biarkan mulut ini terus mengadu dan memohon ampun atas segala dosaku juga dosa orangtua dan saudara- saudaraku. Ku mengadu. Kucurahkan segala kekhawatiranku juga ketakutanku. Kebingunganku. Aku pasrahkan semua pada Dia yang Telah menuliskan setiap jejak langkah hidup dalam lauhul mahfudz. Ku terus mengadu hingga ku terlelap dalm balutan mukenah di atas sajadah.
Lembut kurasa sentuhan Mbak Rahma mebangunkanku untuk segera shalat shubuh. Ternyata sudah jam lima!
“Ayo dek Indah shalat dulu.”
“Iya Mbak.”, jawabku sambil masih berusaha keras membuka mataku.
“Semalam habis nangis ya? Tuh, matanya gede! Ayo buruan cuci muka, wudlu, ntar kesiangan!”
“he eh”
☺☺☺
Kemarin aku gundah gulana. Tapi pagi ini aku sudah kembali lega. Ku bisa tersenyum lega! Setelah shalat shubuh kemarin aku segera mengirimkan uang 750 ribu ke ATM Mbak Iin untuk dikasihkan kepada adekku untuk melunasi dan mengambil SKHUnya. Ku pasrah. Yang penting adikku bisa ambil SKHU masalah registrasi masih ada 20 hari lagi, masih bisa ku berusaha. Semoga beasiswa benar- benar cair tanggal 24 Juli sehingga aku bisa bayar registrasi segera.tapi kalau tidak, ya satu- satunya jalan aku akan pinjam sama BU Anik, pemilik Bimbel Smart tempat aku mengajar dan akan kubayar segera setelah beasiswaku keluar. Bismillah.... semoga Alloh memudahkan. Amiin.
☺☺☺

No comments: